Contoh Skripsi Pemasaran : Analisis Persepsi KonsumenTerhadap Lembaga Kursus Bahasa Inggris YPIA cabang Malang

Kali ini saya ingin memposting contoh skripsi pemasaran dengan Judul Analisis Persepsi KonsumenTerhadap Lembaga Kursus Bahasa Inggris YPIA cabang Malang

BAB I
PENDAHULUAN
 1.1 Judul contoh skripsi pemasaran
“Analisis Persepsi KonsumenTerhadap Lembaga Kursus Bahasa Inggris YPIA cabang Malang"

1.2 Latar Belakang contoh skripsi pemasaran
            Banyak sekarang bermunculan lembaga-lembaga kursus bahasa yang ada di kota Malang, hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengusai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
          YPIA sebagai salah satu lembaga bahasa Inggris di Malang berusaha untuk membuat persepsi tentang lembaganya menjadi baik di hati  konsumennya. Hal ini sangat penting mengingat persepsi konsumen akan sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap lembaga tersebut, kepercayaan konsumen tentunya akan mempengaruhi jumlah orang yang akan mengkonsumsi jasa tersebut.
            Persepsi konsumen juga dapat dijadikan sebagai alat promosi yang sangat efektif. Dengan persepsi konsumen yang baik tentunya ia akan membicarakan kebaikan lembaga tersebut dan mengajak konsumen lainnya untuk ikut bergabung bersamanya. Keadaan promosi yang seperti ini disebut dengan promosi word of mouth.
            Persepsi konsumen menjadi sangat penting karena hal ini akan membentuk citra (image) mengenai lembaga tersebut, citra dapat menjadi aset yang sangat berharga bagi sebuah perusahaan walaupun tidak dapat di hitung secara pasti tetapi aset ini dapat dijadikan alat untuk meningkatkan aktiva perusahaan. Aset perusahaan yang berupa citra yang baik ini disebut dengan goodwill.
            Perspsi didefinisikan Thoha (1992), sebagai proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya baik melewati penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Dari hal ini dapat dipahami bahwa persepsi merupakan suatu bentuk penafsiran yang unik dari masing-masing individu atas stimulus lingkungannya. Menurut Gibson (1996), melalui bagan proses persepsi menyatakan bahwa terciptanya persepsi ini pada akhirnya akan menentukan hasil persepsi yang terdiri dari perilaku tanggapan dan bentuk sikap konsumen. Melalui penafsiran stimulus lingkungan sekitarnya.
            Penelitian mengenai hal seperti ini sangat menarik mengingat persepsi konsumen yang baik sangat dibutuhkan untuk memenangkan persaingan dimasa yang akan datang. Padahal pembentukan persepsi ini sangat menentukan keberhasilan pemasaran suatu produk di pasar.
Persepsi akan menentukan posisi perusahaan tersebut di dalam benak konsumen, penentuan posisi ini pun sangat penting karena konsumen cenderung akan mengingat lebih lama mengenai posisi perusahaan tersebut pada saat didirikan artinya penentuan posisi pada tahap awal akan lebih lama terdapat di dalam benak konsumen. Posisi perusahaan yang ada dalam benak konsumen disebut dengan positioning.
Penempatan posisi memiliki arti yang sangat penting terhadap pemasaran. Seperti diungkapkan oleh Ragis Mckenna (1996) sebagai berikut:
“Memang inti dari setiap strategi pemasaran yang baik tak lain adalah suatu strategi penempatan posisi secara tepat. Pemasaran gaya baru adalah dalam arti luas,  suatu pertempuran untuk merebut posisi “.

Dalam kaitannya dengan berbagai aspek pemasaran, lebih lanjut Mckenna berpendapat:
“Pencapaian posisi adalah suatu yang vital dalam pemasaran. Segala aspek pemasaran-pengiklanan, penetapan harga, pengemasan, distribusi, hubungan masyarakat- sangat dipengaruhi oleh pencapaian posisi, jika misalnya produk dari suatu perusahaan mendapat posisi yang buruk, maka strategi pemasaran yang dilakukan akan sia-sia belaka”.

Penempatan posisi (positioning) semakin penting artinya apabila produk yang dipasarkan adalah produk jasa, sebab produk ini bersifat abstrak. Penilaian konsumen terhadap citra perusahaan tidak lagi didasarkan pada yang tampak, tetapi nilai persepsi yang dirasakan  ketika mengkonsumsi jasa tersebut. Citra tersebut dapat terbentuk melalui cara produk tersebut disajikan, pengalaman masa lalu, dan penilaian orang lain atas produk yang bersangkutan. Hal ini seperti ditulis oleh Walker, Boyd, dan Larecce (1992).
“The evaluation of many product is subjective, because it is influenced by many factors other than physical properties, including the way product are presented, past experience with them and the opinion of the people”.

Penelitian dilakukan di YPIA Malang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1.      YPIA mempunyai ciri khas tersendiri yaitu biaya kursus yang terjangkau dan kualitas pengajar yang cukup baik.
2.      Perspsi konsumen yang selama ini ada dirasa cukup baik tetapi dalam waktu berjalan tentunya akan memerlukan evaluasi yang terus menerus untuk memonitor perkembangan persepsi yang ada pada konsumen.

1.3 Perumusan Masalah contoh skripsi pemasaran
Sebagaimana latar belakang penelitian diatas maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan suatu masalah yang terkait dengan hal tersebut adalah:
“Variabel-variabel apa saja yang berpengaruh dalam pembentukan persepsi dari konsumen YPIA Malang”.

1.4 Tujuan Penelitian "contoh skripsi pemasaran"
            Adapun tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi pembentukan persepsi dari konsumen YPIA.

1.5 Manfaat Penelitian "contoh skripsi pemasaran"
            Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari dilaksanakannya penelitian ini diantaranya adalah:
            Bagi perusahaan :
1.      Dapat mengetahui apa yang dipersepsikan konsumen selama ini.
2.      Apabila persepsi konsumen yang ada sekarang ini telah dirasa cukup baik maka perusahaan dapat mempertahankannya agar tetap baik dan apabila tidak perusahaan dapat mengubah posisi yang selama ini dilakukannya.
3.      Persepsi yang baik akan dapat meningkatkan tingkat penjualan karena loyalitas konsumen yang meningkat juga karena efek dari pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth).
4.      Sebagai tambahan informasi bagi perusahaan dan bahan masukan dalam pengambilan keputusan.
Bagi peneliti :
Penelitian ini dapat digunakan sebagai perbandingan sejauh mana teori-teori yang didapat selama masa perkuliahan dapat diterapkan pada perusahaan secara nyata.
Bagai pihak lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan dalam menambah pengetahuan serta bahan informasi untuk penelitian selanjutnya khususnya yang tertarik pada bidang permasalahan ini.
Demikianlah contoh skripsi pemasaran yang saya posting hanya pada bagian BAB 1 sedangkan untuk Kelengkapan contoh skripsi pemasaran Silahkan Masuk ke SINI

CONTOH SKRIPSI PENDIDIKAN KEWARGA NEGARAAN


Kali Ini saya ingin memposting kembali contoh skripsi pendidikan kewarganegaraan, yang terdiri dari BAB 1. 
BAB I
PENDAHULUAN


A.          Latar Belakang  Masalah
   
            Otonomi daerah membawa dampak yang sangat luas terhadap berkembangnya  Demokrasi di Indonesia serta membawa harapan besar untuk kesejahtraan rakyat dan kemakmuran daerah dengan pemilihan kepala daerah secara langsung. Rakyat bisa menentukan pilhannya sendiri dibandingkan dengan pemilihan kepala daerah sebelumnya yang dipilih oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat.Hal ini membawa perubahan pandangan masyarakat terhadap pemerintahan, karena calon yang akan memimpin dipilih langsung oleh rakyat.  Hal ini membuktikan adanya  sikap  demokratis dan ketransparanan bagi rakyat yang akan memilih seorang pemimpin secara terbuka tidak memilih bagaikan kucing dalam karung..Bagaimanapun ini merupakan konsekuensi logis dari berlakunya Undang – undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah sebagai penyempurnaan dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1947 dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999.     
    Dengan adanya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004  rakyat berharap  dapat mengetahui dan memahami isi yang terkandung dalam undang-undang, sehingga lebih dapat meningkatkan pengetahuan serta wawasan politik atau pendidikan politik yang lebih dewasa terutama lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintah daerah.
    Dalam masyarakat modern sekarang partisipasi penuh dan bertanggung jawab terhadap penentuan para calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang secara formal diwakilkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, menjaring para calon kepala daerah yang mempunyai tugas dan wewenang
  1. Memilih Gubernur /wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota.
  2. Mengusulkan pengangkatan atau pemberhentian gubernur /wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota.
  3. Berasama-sama gubernur, bupati, atau walikota menetapkan APBD dan membentuk Peraturan Daerah.
  4. Mengawasi pelaksanaan peraturan daerah, keputusan gubernur /bupati/walikota, APBD, kebijaksanaan pemerintah daerah, kerjasama internasional, dan berbagai peraturan perundang-undangan pada umumnya.
  5. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah pusat atas suatu perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan daerah.
  6. Menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Khusus untuk DPRD Propinsi, termasuk wewenang memilih anggota MPR Utusan Daerah (Bagir Manan, 2001 : 113)       
     Sehubungan dengan kondisi rakyat berada di dalam kondisi serba keterbelakangan dan ketidaktahuan politik,kemudian untuk merangsang partisipasi politik mereka secara aktif, perlu adanya pendidikan politik di alam demokrasi yang terbuka dengan adanya otonomi dan pemilihan kepala daerah secara langsung dewasa ini.Hal ini sesuai dengan isi yang tersirat dalam sila keempat Pancasila kita. Sebab tujuan pendidikan politik yang di kemukakan oleh Kartini Kartono  {1996 : Viii}
  • Membuat rakyat menjadi melek politik  / sadar politik
  • Dan lebih kreatif  dalam partisipasi  sosial politik di era pembangunan
  • Sekaligus juga menghumanisasikan masyarakat, agar menjadi “leefbaar”, yaitu lebih nyaman dan sejahtera untuk dihuni oleh semua warga masyarakat Indonesia.

      Membuat rakyat menjadi melek politik dalam pemilihan Kepala Daerah secara langsung dan membangun tingkat kesadaran dalam berpolitik, serta masyarakat lebih kreatif dalam memilih calon Kepala Daerah yang mempunyai pemikiran yang ingin membangun daerahnya untuk maju dan sejahtera serta pelayanan publik yang lebih baik.
            Sebagaimana kita ketahui  bahwa, setiap pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah penyelenggaranya dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah  sebagaimana tercantum di dalam Undang – Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah BAB IV bagian kedelapan pasal 57 (1,2) (2004:52) yang berbunyi :
“Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan oleh                      Komisi Pemilihan Umum Daerah yang bertanggung jawab Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah .dan dalam melaksanakan. Tugasnnya,Komisi Pemilihan Umum Daerah, menyampaikan laporan penyelenggaraan pemilihan.Kepala daerah dan wakil kepala daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah”

            Dari penjelasan di atas dapatlah saya  simpulkan bahwa pemilihan kepala daerah dilaksanakan secara demokratis tetapi masih kentalnya keterlibatan partai dalam menentukan dan mengendalikan pemilihan kepala daerah, secara pemilihan demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil bahwa pemilihan kepala daerah benar-benar bersifat murni dan konsekuen dimana setiap pasangan calon tersebut diajukan oleh partai politik. Harapan positif dari partai politik adalah optimalisasi fungsi dan peran partai politik itu sendiri dalam membawa masyarakat menuju kearah yang lebih baik dan sejahtera serta demokratis.
      Fungsi hak dan kewajiban Partai Politik sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Partai Politik Nomor 31 Tahun 2002 dan undang-undang pemilihan Umum Nomor 12 Tahun 2003 yang tercantum dalam BAB V pasal 7 yang berbunyi:
Partai politik berfungsi sebagai sarana:
  1. pendidikan politik bagi anggotanya dan masyarakat luas agar menjadi warga Negara Republik Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat ,berbangsa ,dan bernegara :
  2. penciptaan iklim yang kondusif serta sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa untuk mensejahtrakan masyarakat;
  3. penyerap ,penghimpun,dan penyalur aspirasi politik masyarakat secara konstitusional dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan Negara;
  4. partisipasi politik warga Negara;dan
  5. rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.

Dengan demikian bahwa partai politik memegang peranan strategis dan penting demi terlaksananya   Pemilihan Kepala Daerah. Pentingnya peran partai politik dalam kedudukan politik. Untuk mendapat piramida kekuasaan dalam suatu pemerintahan yang akan mewarnai kebijakan-kebijakan politik dari partai yang  bersangkutan.
Pemilihan kepala daerah secara langsung dipilih oleh masyarakat memberikan corak atau warna tersendiri terhadap pemerintahan yang akan terbentuk, apalagi diberlakukannya undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 ,dimana dijelaskan bahwa masyarakat mempunyai kewenangan untuk memilih Gubernur/wakil Gubernur,Bupati/Wakil Bupati  atau Walikota /wakil walikota..
Pemilihan Kepala Daerah merupakan pranata terpenting dalam tiap Negara demokrasi , terlebih lagi bagi Negara yang berbentuk republik seperti Indonesia, Pemilihan Kepala Daerah juga merupakan salah satu sarana pendidikan politik bagi masyarakat yang bersifat langsung dan terbuka. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi.
Berdasarkan Uraian tersebut maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian yang akan dituangkan dalam sebuah karya ilmiah dengan mengetengahkan judul ‘’Kajian Tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilihan  Kepala Daerah Langsung Dihubungkan Dengan UU No.32 Tahun 2004  Tentang Pemerintahan Daerah ‘’
Pembahasan masalah ini merupakan tinjauan deskriptif analisis tentang peran serta masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah.
B.     Rumusan dan Pembatasan Masalah
            A. Rumusan Masalah
          Pada hakekatnya masalah dalam suatu penelitian merupakan segala bentuk pernyataan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk kesulitan yang datang tentunya harus ada kegiatan yang memecahkannya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Adapun rumusan permasalahan yang penulis ajukan adalah:
Bagaimana Partisipasi masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah dihubungkan dengan Undang – undang Nomor 32 Tahun 2004 ?
B.   Pembatasan Masalah
         Untuk kejelasan masalah serta memudahkan dalam pemecahannya, maka di perlukan adanya gambaran tentang apa yang akan di teliti dan bagaimana pembatasannya .
Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah ;
  1. Bagaimana partisipasi masyarakat pada pelaksanaan kampanye Pilkada  ?
  2. Bagimana partisipasi masyarakat pada saat hari – H (pencoblosan) ?
  3. Bagaimana pemahaman Pendidikan Politik Masyarakat mengenai Pemilihan Kepala Daerah  ?
C.    Penjelasan Istilah
            Untuk menjaga salah pengertian dalam penelitian ini. Maka di perlukan adanya suatu penjelasan istilah. Skripsi ini berjudul :
”Kajian Tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung Dihubungkan Dengan UU No.32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah”  
  1. Partisipasi adalah hak suara masyarakat digunakan dengan baik dan ikut peran serta dalam Pemilihan Kepala Daerah serta tidak ada yang tidak memilih semua ikut dalam proses pemilihan.
  2. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama dan bekerja sama  untuk mencapai terkabulnya keingianan-keinginan bersama (Meriam Budiarjo,2001)
  3. Pemilihan adalah proses, cara, perbuatan memilih pengurus (Kamus Besar Bahasa Indonesia,Balai Pustaka ,1990)
  4. Kepala Daerah artinya orang yang memimipin Pemerintahan Daerah misalnya Gubernur untuk Daerah Tingkat I dan Bupati untuk Daerah Tingkat II (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka 1990)
  5. Langsung artinya di lakukan sendiri secara langsung oleh yang berhak tidak diwakilkan ke yang lain. (Moh. Mahfud. M.D, 1998)
  6. Pemerintahan Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah setingkat Provinsi, Kabupaten dan Pemkot (Undang-undang No.32 Tentang Pemerintahan Daerah )
D.    Tujuan Penelitian
  1. Ingin mengetahui partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah
  2. Ingin mengetahui tahapan-tahapan pada pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah
  3. Ingin mengetahui hambatan-hambatan yang di alami oleh KPUD selaku lembaga penyelenggara dan pelaksana Pemilihan Kepala Daerah

 E.   Anggapan Dasar dan Hipotesis
1.      Anggapan Dasar
           Menurut Suharsimi Arikunto ( 1997 : 58 ) bahwa anggapan dasar atau postulat merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang sebenarnya telah di terima oleh penyelidik yang melandasi penelitian.
Berdasarkan pendapat diatas, maka jelaslah bahwa sebagai titik tolak pemikiran dalam melakukan penelitian adalah harus adanya anggapan dasar yang penulis kemukakan adalah sebagai berikut:
a. Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang selanjutnya disebut pemilihan  adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat di wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/kota berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia  1945 untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.(PP N0. 6 Tahun 2005)
b. Proses dari Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) yang bertanggung jawab kepada DPRD dimana tugas utama dari KPUD dalam penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yaitu merencanakan penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sesuai dengan tahapan-tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan (UU No.32 Tahun 2004)
c. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah merupakan pejabat negara yang mempunyai peranan yang sangat strategis dalam rangka pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, pemerataan, kesejahteraan masyarakat, memelihara hubungan yang serasi antara pemerintahan pusat dan daerah serta antar-daerah. Sejalan dengan hal tersebut diatas, diperlukan Figur Kepala Daerah yang mampu mengembangkan inovasi, berwawasan kedepan dan siap melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, dimana proses-proses pemilihan Kepala Daerah dilaksanakan melalui beberapa tahapan dimulai dari tahap pendaftaran, penyaringan, penetapan pasangan calon, rapat paripurna khusus, pengiriman berkas pemilihan, pengesahan, dan pelatihan. (Deddy Supriady Baratakusumah dan Dadang Solihin, 2003 : 62)
2. Hipotesis
    Menurut Suharsimi Arikunto ( 1997 : 64 ) bahwa hipotesis dapat di artikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. 
 Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut   :
  1. Jika partisifasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung, umum, bebas, jujur dan adil maka dapat membantu jalannya pemerintahan yang demokratis.
  2. Jika UU No.32 Tahun 2004 diberlakukan secara tepat maka proses pemilihan Kepala daerah akan berjalan dengan lancar. 
F. Metode dan Teknik Penelitian 
1. Metode Penelitian 
          Metode merupakan cara atau alat untuk mencapai suatu tujuan. Pada penelitian ini penulis cenderung untuk menggunakan metode deskriftis analisis yaitu cara kerja untuk mengumpulkan data dari keadaan yang sebenarnya terjadi pada objek, baik dari hasil observasi maupun laporan-laporan sebagai bahan analisis yang penulis lakukan.
 Alasan lain di gunakan metode ini adalah Metode tersebut dapat di gunakan untuk menginterpretasikan keadaan data yang nyata.
2.      Teknik Penelitian 
      Untuk melengkapi metode yang penulis gunakan dalam mengumpulkan data-data tersebut maka di perlukan adanya teknik penelitian .
Adapun teknik penelitian yang di gunakan adalah sebagai berikut :
  1. Studi literatur / kajian kepustakaan, yaitu mempelajari buku-buku dan bahan-bahan yang berhubungan dengan masalah yang menjadi pokok bahasan dan hubungan dengan objek penelitian guna mendapatkan informasi teoritis.
  2. Observasi, yaitu tinjauan langsung ke objek penelitian untuk mendapatkan gambaran nyata tentang masalah yang sedang di teliti.
  3. Angket, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan Instrumen berupa pertanyaan secara tertulis yang diberikan kepada responden.
  4. Wawancara, yaitu kegiatan yang dilaksanakan dengan cara interview  langsung secara lisan terhadap responden.
3.      Variabel – Variabel Penelitian  
  1. Variabel Independent / bebas
Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya variabel  dependen. Variabel bebas yang penulis maksud adalah :
Partisipasi Masyarakat, dengan  indikator variabel sebagai berikut :
a.      Pada saat kampanye
b.      Pada saat hari – H (pencoblosan)
c.       Pendidikan Politik Masyarakat
  1. Variabel Dependen /Terikat 
Variabel Dependen / Terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas, yaitu aspek yang terlihat dalam hasil atau dampak. Adapun variabel dependen yang penulis maksudkan adalah sebagai berikut :
Tahap-tahap Pemilihan Kepala Daerah , dengan indikator variabel sebagai berikut:
    1. Tahapan Persiapan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
    2. Tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah
    3. Tahap evaluasi



E.     Populasi dan  Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian 
        Pelaksanaan penelitian senantiasa akan selalu berhadapan dengan masalah populasi, sebab suatu pengujian masalah selalu berhubungan dengan sekelompok subjek baik manusia, gejala ataupun peristiwa sebagaimana yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto ( 1997 : 115 ) mengatakan definisi populasi sebagai berikut : “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.”
        Berangkat dari pendapat ahli diatas maka dalam penelitian ini populasi yang digunakan penulis adalah masyarakat desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku  dengan harapan dapat memberikan suatu gambaran yang nyata .
2.      Sampel Penelitian
Karena tidak memungkinkan setiap peneliti menyelidiki populasi secara keseluruhan, sedangkan penelitian bertujuan untuk menemukan generalisasi yang berlaku secara umum, maka seringkali peneliti mengambil sebagian dari populasi penelitian yaitu sebuah sampel.
Agar lebih mudah dalam pengumpulan data dan karena keterbatasan waktu serta tenaga yang dimiliki penulis dalam penelitian ini menggunakan sampel “Sampel Random atau Sampel Acak” sampel random adalah sampel yang mewakili seluruh populasi, sebagaimana  yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto ( 1997 : 1230 ), bahwa teknik sampling ini diberi nama demikian karena dalam pengambilan sampelnya peneliti “mencampur” subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek dianggap sama. Mengingat banyaknya populasi atau responden yang akan dijadikan penelitian maka sampel yang diambil sebanyak 150 dari banyaknya populasi hal itu dikarenakan :
    1. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga ,dan dana
    2. Sempit luasnya teritori wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
    3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti  yang merupakan tanggung jawab,untuk penelitian yang resikonya besar.
           Hal ini ditunjang oleh pendapat yang dikemukakan Sudjana (2002 : 168) dengan menggunakan sampling purposif yang dikenal sebagai sampiling pertimbangan perorangan atau pertimbangan penelitian.   

Untuk melihat contoh skripsi pendidikan kewarganegaraan hingga Bab 2 dan Terakhir Silahkan Kunjungi di Sini

Contoh Skripsi Keuangan : Abstrak


Kali ini saya akan menyampaikan Contoh Skripsi Keunagan khusus abstrak.
Faktor yang mempengaruhi pasar valas Indonesia inefisien adalah factor berasal  eksternal (dari luar negeri)  dan factor internal (dari dalam negri) yang terakumulasi dalam satu periode tertentu. Sehingga pasar tidak tersedia cukup informasi, pelaku pasar merasa tidak cukup puas, pasar tidak seimbang  dengan harga tidak wajar , dan pelaku pasar bertindak irrasional.


BAB I : PENDAHULUAN "Contoh Skripsi Keuangan
Bab ini berisi mengenai hal-hal yang melatarbelakangi pengambilan judul studi ini, perumusan masalah, dan pembatasan masalah serta tujuan dan manfaat penelitian.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA "Contoh Skripsi Keuangan"
Dalam tinjauan pustaka akan diberikan penjelasan teoritis dari permasalahan hipotesis yang diangkat dalam studi penelitian ini. Landasan teori diambil dari beberapa literatur yang mendukung, majalah-majalah, dan sumber-sumber lain yang berkaitan.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN "Contoh Skripsi Keuangan"
Dalam Bab III ini diberi gambaran tahap-tahap yang dilakukan dan metode yang digunakan (menggunakan metode Engle-Granger) dalam menganalisa data yang telah dikumpulkan sampai mencapai suatu kesimpulan.

BAB IV     : PEREKONOMIAN INDONESIA "Contoh Skripsi Keuangan"
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai gambaran makro perekonomian Indonesia yang berkaitan dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar.

BAB V : ANALISIS HASIL PENELITIAN "Contoh Skripsi Keuangan"
Bab V menyajikan berbagai data yang dibutuhkan baik data yang telah diolah oleh penulis maupun data yang didapat langsung dari sumber data lainnya. Disamping itu, analisis data dilakukan berdasarkan metode yang telah ditetapkan.

BAB VI : PENUTUP "Contoh Skripsi Keuangan"
Bab ini berisi kesimpulan yang berhasil diperoleh berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis dan saran dari penulis sehubungan dengan kesimpulan tersebut.

Lebih jelasnya dan lengkap Contoh skripsi keuangan ini Silahkan masuk ke halaman Berikutnya

CONTOH SKRIPSI PEMASARAN


Kali ini saya ingin memposting Contoh Skripsi pemasaran yang Berjudul “Analisis Persepsi KonsumenTerhadap Lembaga Kursus Bahasa Inggris YPIA cabang Malang", pada contoh skripsi pemasaran ini, karena hanya sebagai contoh kami postingkan bab 1 :
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Judul Contoh Skripsi pemasaran
“Analisis Persepsi KonsumenTerhadap Lembaga Kursus Bahasa Inggris YPIA cabang Malang"

1.2 Latar Belakang Contoh Skripsi pemasaran
            Banyak sekarang bermunculan lembaga-lembaga kursus bahasa yang ada di kota Malang, hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengusai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
          YPIA sebagai salah satu lembaga bahasa Inggris di Malang berusaha untuk membuat persepsi tentang lembaganya menjadi baik di hati  konsumennya. Hal ini sangat penting mengingat persepsi konsumen akan sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap lembaga tersebut, kepercayaan konsumen tentunya akan mempengaruhi jumlah orang yang akan mengkonsumsi jasa tersebut.
            Persepsi konsumen juga dapat dijadikan sebagai alat promosi yang sangat efektif. Dengan persepsi konsumen yang baik tentunya ia akan membicarakan kebaikan lembaga tersebut dan mengajak konsumen lainnya untuk ikut bergabung bersamanya. Keadaan promosi yang seperti ini disebut dengan promosi word of mouth.
            Persepsi konsumen menjadi sangat penting karena hal ini akan membentuk citra (image) mengenai lembaga tersebut, citra dapat menjadi aset yang sangat berharga bagi sebuah perusahaan walaupun tidak dapat di hitung secara pasti tetapi aset ini dapat dijadikan alat untuk meningkatkan aktiva perusahaan. Aset perusahaan yang berupa citra yang baik ini disebut dengan goodwill.
            Perspsi didefinisikan Thoha (1992), sebagai proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya baik melewati penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Dari hal ini dapat dipahami bahwa persepsi merupakan suatu bentuk penafsiran yang unik dari masing-masing individu atas stimulus lingkungannya. Menurut Gibson (1996), melalui bagan proses persepsi menyatakan bahwa terciptanya persepsi ini pada akhirnya akan menentukan hasil persepsi yang terdiri dari perilaku tanggapan dan bentuk sikap konsumen. Melalui penafsiran stimulus lingkungan sekitarnya.
            Penelitian mengenai hal seperti ini sangat menarik mengingat persepsi konsumen yang baik sangat dibutuhkan untuk memenangkan persaingan dimasa yang akan datang. Padahal pembentukan persepsi ini sangat menentukan keberhasilan pemasaran suatu produk di pasar.
Persepsi akan menentukan posisi perusahaan tersebut di dalam benak konsumen, penentuan posisi ini pun sangat penting karena konsumen cenderung akan mengingat lebih lama mengenai posisi perusahaan tersebut pada saat didirikan artinya penentuan posisi pada tahap awal akan lebih lama terdapat di dalam benak konsumen. Posisi perusahaan yang ada dalam benak konsumen disebut dengan positioning.
Penempatan posisi memiliki arti yang sangat penting terhadap pemasaran. Seperti diungkapkan oleh Ragis Mckenna (1996) sebagai berikut:
“Memang inti dari setiap strategi pemasaran yang baik tak lain adalah suatu strategi penempatan posisi secara tepat. Pemasaran gaya baru adalah dalam arti luas,  suatu pertempuran untuk merebut posisi “.

Dalam kaitannya dengan berbagai aspek pemasaran, lebih lanjut Mckenna berpendapat:
“Pencapaian posisi adalah suatu yang vital dalam pemasaran. Segala aspek pemasaran-pengiklanan, penetapan harga, pengemasan, distribusi, hubungan masyarakat- sangat dipengaruhi oleh pencapaian posisi, jika misalnya produk dari suatu perusahaan mendapat posisi yang buruk, maka strategi pemasaran yang dilakukan akan sia-sia belaka”.

Penempatan posisi (positioning) semakin penting artinya apabila produk yang dipasarkan adalah produk jasa, sebab produk ini bersifat abstrak. Penilaian konsumen terhadap citra perusahaan tidak lagi didasarkan pada yang tampak, tetapi nilai persepsi yang dirasakan  ketika mengkonsumsi jasa tersebut. Citra tersebut dapat terbentuk melalui cara produk tersebut disajikan, pengalaman masa lalu, dan penilaian orang lain atas produk yang bersangkutan. Hal ini seperti ditulis oleh Walker, Boyd, dan Larecce (1992).
“The evaluation of many product is subjective, because it is influenced by many factors other than physical properties, including the way product are presented, past experience with them and the opinion of the people”.

Penelitian dilakukan di YPIA Malang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1.      YPIA mempunyai ciri khas tersendiri yaitu biaya kursus yang terjangkau dan kualitas pengajar yang cukup baik.
2.      Perspsi konsumen yang selama ini ada dirasa cukup baik tetapi dalam waktu berjalan tentunya akan memerlukan evaluasi yang terus menerus untuk memonitor perkembangan persepsi yang ada pada konsumen.

1.3 Perumusan Masalah Contoh Skripsi pemasaran
Sebagaimana latar belakang penelitian diatas maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan suatu masalah yang terkait dengan hal tersebut adalah:
“Variabel-variabel apa saja yang berpengaruh dalam pembentukan persepsi dari konsumen YPIA Malang”.

1.4 Tujuan Penelitian "Contoh Skripsi pemasaran"
            Adapun tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi pembentukan persepsi dari konsumen YPIA.

1.5 Manfaat Penelitian "Contoh Skripsi pemasaran"
            Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari dilaksanakannya penelitian ini diantaranya adalah:
            Bagi perusahaan :
1.      Dapat mengetahui apa yang dipersepsikan konsumen selama ini.
2.      Apabila persepsi konsumen yang ada sekarang ini telah dirasa cukup baik maka perusahaan dapat mempertahankannya agar tetap baik dan apabila tidak perusahaan dapat mengubah posisi yang selama ini dilakukannya.
3.      Persepsi yang baik akan dapat meningkatkan tingkat penjualan karena loyalitas konsumen yang meningkat juga karena efek dari pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth).
4.      Sebagai tambahan informasi bagi perusahaan dan bahan masukan dalam pengambilan keputusan.
Bagi peneliti :
Penelitian ini dapat digunakan sebagai perbandingan sejauh mana teori-teori yang didapat selama masa perkuliahan dapat diterapkan pada perusahaan secara nyata.
Bagai pihak lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan dalam menambah pengetahuan serta bahan informasi untuk penelitian selanjutnya khususnya yang tertarik pada bidang permasalahan ini.

Lebih Lengkapnya pembahasan hingga BAB terakhir termasuk daftar pustaka Contoh Skripsi Pemasaran silahkan Masuk ke Halaman berikutnya Di Sini

CONTOH SKRIPSI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA


CONTOH SKRIPSI BAHASA INDONESIA INI DENGAN JUDUL : Kemampuan  Mengembangkan Karangan Narasi Berdasarkan Teks Wawancara oleh Siswa Kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya”
BAB I
PENDAHULUAN
  
1.1     Latar Belakang dan Masalah "CONTOH SKRIPSI BAHASA SINDONESIA"
Kemampuan berbahasa dalam KBK mencakup empat aspek penting, yaitu (1) keterampilan mendengar, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis. Kemampuan berbahasa ini berhubungan erat dalam usaha seseorang memperoleh kemampuan berbahasa yang baik. Berbagai usaha dilakukan untuk membina dan mengembangkan bahasa agar benar-benar memenuhi fungsinya.
Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah melalui program pendidikan di sekolah, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Depdiknas (2003:6-7), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
1)      berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan;
2)      menghargai dan bangga menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
3)      memahami bahasa indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
4)      menggunakan bahasa indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
5)      menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan
6)      menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia indonesia (Sic).

Penggunaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Menyimak dan membaca  erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna (Tarigan, 1986:10). Menulis merupakan kegiatan mengekspresikan informasi yang diterima dari proses menyimak dan membaca. Jadi, semakin banyak seseorang menyimak atau membaca semakin banyak pula informasi yang diterimanya untuk diekspresikan secara tertulis. Kemudian, Crimmon (dalam Kurniawan 2006:122) mengatakan bahwa
menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para pembelajar yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan kata, dan struktur kalimat.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan  salah satu keterampilan berbahasa yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan penguasaan keterampilan menulis, diharapkan siswa dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya setelah menjalani proses pembelajaran dalam berbagai jenis tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi. Asumsinya, pengungkapan tersebut merupakan peresapan, pemahaman, dan tanggapan siswa terhadap berbagai hal yang diperoleh dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, segala informasi, ilmu pengetahuan, dan berbagai kecakapan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran tidak akan sekedar menjadi hafalan yang mudah dilupakan sesaat setelah siswa menjalani tes.
Tujuan pembelajaran menulis belum dicapai secara maksimal oleh siswa. Menurut Trimantara (2005:1), penyebab terhadap tidak tercapainya tujuan pembelajaran menulis meliputi
1)      rendahnya tingkat penguasaan kosa kata sebagai akibat rendahnya minat baca;
2)      kurangnya penguasaan keterampilan mikrobahasa, seperti penggunaan tanda baca, kaidah-kaidah penulisan, diksi, penyusunan kalimat dengan struktur yang benar, sampai penyusunan paragraf;
3)      kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa; serta
4)      ketiadaan atau keterbatasan media pembelajaran menulis yang efektif.

Karena pentingnya keterampilan menulis, pengembangan pembelajaran menulis perlu ditingkatkan. Peningkatan pembelajaran menulis dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan. Purwo (1990:166-171) mengatakan kegiatan pengembangan pembelajaran menulis dapat dilakukan dengan kegiatan mengembangkan logika, melatih daya imajinasi, merangkai kata menjadi kalimat, dan merangkai kalimat menjadi paragraf. Hal ini dilakukan untuk mengaktifkan daya kreatif siswa dalam mengasah kecerdasan mareka.
Tes kemampuan menulis dapat divariasikan dalam berbagai bentuk tulisan. Tekniknya dapat disajikan data verbal, gambar, tabel, teks, peta, bagan. Dari data-data itu, siswa diminta untuk menulis sebuah karangan. Melalui kegiatan inilah kemampuan komunikatif siswa diukur secara terintegrasi (Mahmud, 2003:14).
Penggunaan teks wawancara sebagai alat bantu dalam mengembangkan karangan narasi akan membantu siswa untuk  menceritakan kembali sesuatu peristiwa atau kejadian secara kronologis. Kegiatan seperti ini menyuburkan kesempatan kreatif bagi  siswa dalam  menampilkan gagasan dan keahlian memilih kata serta merangkainya menjadi kalimat.
Penelitian ini mencoba mengukur kemampuan menulis siswa melalui ”Kemampuan  Mengembangkan Karangan Narasi Berdasarkan Teks Wawancara oleh Siswa Kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya”. Adapun tujuan utamanya adalah mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya melalui mengembangkan teks wawancara menjadi karangan narasi. Hal ini dilakukan karena selama ini siswa SMP masih dianggap belum mampu untuk menulis dengan alasan menulis itu cukup sulit untuk dikuasai  oleh mereka, padahal siswa SMP ditutut memenuhi kemampuan yang memadai dalam menulis.
Pemilihan  siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya sebagai populasi penelitian didasari atas pertimbangan (1) sebagaimana siswa di SMP lainnya, siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya telah mendapat pengajaran menulis sebagaimana tertera dalam kurikulum yang berlaku,        (2) setelah menjalani pembelajaran, siswa dituntut memiliki kemampuan yang memadai dalam menulis, dan  (3) siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya  perlu mendapat pembinaan yang intensif dalam menulis.

1.2 Rumusan Masalah "CONTOH SKRIPSI BAHASA SINDONESIA"
Bedasarka latar belakang di atas, masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan  mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara oleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya?

1.3  Tujuan Penelitian "CONTOH SKRIPSI BAHASA SINDONESIA"
Secara umum penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya. Secara khusus penelitian ini  bertujuan mendeskripsikan kemampuan  mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara oleh mereka.

1.4 Manfaat Penelitian "CONTOH SKRIPSI BAHASA SINDONESIA"
Manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang mewajibkan penuturnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan. Penelitian ini juga menjadi pengetahuan, khususnya bagi peneliti, siswa, guru, dan masyarakat umum.

Selengkapnya Silahkan Menuju Ke Sini

CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN KEUANGAN


CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN KEUANGAN : PENERAPAN BALANCED SCORECARD SEBAGAI TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA PADA BADAN USAHA BERBENTUK RUMAH SAKIT (Studi Kasusu Pada Rumah Sakit Kristen Tayu Pati)



1.1. Latar Belakang
Untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompetitif, manajemen perusahaan yang baik merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Oleh karena itu perusahaan memerlukan sistem manajemen yang didesain sesuaidengan tuntutan lingkungan usahanya, karena dengan menggunakan sistem manajemen yang sesuai dengan tuntutan lingkungan usaha maka perusahaan akan mampu bersaing dan berkembang dengan baik.
Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi sebuah perusahaan. Pengukuran tersebut, dapat digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan serta sebagai dasar penyusunan imbalan dalam perusahaan. Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional hanya menitikberatkan pada sisi keuangan. Manajer yang berhasil mencapai tingkat keuntungan yang tinggi akan dinilai berhasil dan memperoleh imbalan yang baik dari perusahaan.
Akan tetapi, menilai kinerja perusahaan semata-mata dari sisi keuangan akan dapat menyesatkan, karena kinerja keuangan yang baik saat ini dapat dicapai dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan jangka panjang perusahaan. Dan sebaliknya, kinerja keuangan yang kurang baik dalam jangka pendek dapat terjadi karena perusahaan melakukan investasi-investasi demi
kekepentingan jangka panjang. Untuk mengatasi kekurangan ini, maka diciptakan suatu metode pendekatan yang mengukur kinerja perusahaan dengan mempertimbangkan 4 aspek yaitu aspek keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta proses belajar dan berkembang (Ali Mutasowifin, 2002 :245)


Metode ini berusaha untuk menyeimbangkan pengukuran aspek keuangan dengan aspek non keuangan yang secara umum dinamakan Balanced Scorecard. Dengan menerapkan metode Balanced Scorecard para manajer perusahaan akan mampu mengukur bagaimana unit bisnis mereka melakukan penciptaan nilai saat ini dengan tetap mempertimbangkan kepentingankepentingan masa yang akan datang.
Rumah Sakit adalah bentuk organisasi pengelola jasa pelayanan kesehatan individual secara menyeluruh. Di dalam organisasinya terdapat banyak aktivitas, yang diselenggarakan oleh petugas berbagai jenis profesi, baik profesi medik, paramedik maupun non-medik. Untuk dapat menjalankan fungsinya, diperlukan suatu sistem manajemen menyeluruh yang dimulai dari proses perencanaan strategik (renstra), baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Suatu renstra dapat disebut baik apabila perencanaan tersebut dapat ditindaklanjuti secara praktis ke dalam program-program operasional yang berorientasi kepada economic - equity - quality. Artinya rumah sakit dikelola secara efektif dan efisien, melayani segala lapisan masyarakat dan
berkualitas.
Memasuki era globalisasi perdagangan antarnegara sejak 2003 ini, pimpinan rumah sakit di Indonesia perlu memfokuskan strategi perencanaan, pengorganisasian, pengoperasian, dan pengendalian sehingga betul-betul siap dengan daya saing di tingkat global. Di dalam era tersebut, para konsumen bebas memilih rumah sakit mana yang mampu memberikan pelayanan memuaskan, profesional dengan harga bersaing, sehingga strategi dan kinerja rumah sakit pun harus berorientasi pada keinginan pelanggan tersebut. Untuk itu diterapkan balanced scorecard (BSC) yang diharapkan menjawab tuntutan dan tantangan zaman.


Rumah Sakit Kristen Tayu Pati sebagai rumah sakit rujukan pelayanan kesehatan di daerah sekitar murya dalam era kesejagatan (globalisasi), disatu pihak diperhadapkan pada kekuatan-kekuatan dan masalah-masalah interen yang ada, sedangkan di lain pihak secara, bersamaan juga diperhadapkan pada kondisi lingkungan dengan berbagai faktor peluang dan tantangan yang
senantiasa berkembang dinamis. Oleh karena itu untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang prima bagi masyarakat perlu disusun Visi Misi,Tujuan, Sasaran serta Indikator keberhasilan yang dirampungkan dalam bentuk Rencana Stratejik (RENSTRA). Indikator keberhasilan merupakan alat ukur yang harus dievaluasi secara periodik berkesinambungan. Indikator bukan saja
dalam bentuk finansial tapi juga dengan indikatoryang lain seperti pelangan, bisnis inernal juga pembelanjaran dan pertumbuhan yang selanjutnya dijadikan bahan untuk mengendalikan arah dan mutu pelayanan kesehatan agar visi yang telah ditetapkan benar-benar dapat diwujudkan.

Rumah Sakit Kristen Tayu Pati merupakan salah satu Rumah Sakit Umum di Tayu yang berusaha memberikan pelayanan kesehatan secara propesonalisme dan meningkatkan mutu terus-menerus. Memaksa pihak Rumah Sakit Kristen Tayu Pati untuk selalu memperbaiki kinerjanya, agar dapat menambah kepercayaan masyarakat atas Rumah Sakit Kristen Tayu Pati. Kepercayaan ini sangatlah penting, mengingat masyarakat merupakan pengguna jasanya. Diharapkan dengan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap Rumah Sakit menpunyai dampak pada pendapatan Rumah Sakit.
Melihat fenomena tersebut di atas, maka perlu digunakan alternatif penilaian kinerja Rumah Sakit Kristen Tayu dengan menggunakan Balanced Scorecard yang lebih komprehensif, akurat, terukur karena dalam menilai kinerja suatu organisasi tidak hanya dinilai dari aspek keuangan saja, tetapi juga dinilai dari aspek nonkeuangan. Dari latar belakang dan uraian di atas, maka dalam penelitian ini mengambil judul “PENERAPAN BALANCED SCORECARD SEBAGAI TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA PADA BADAN USAHA
BERBENTUK RUMAH SAKIT (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Kristen Tayu Pati)”

CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN KEUANGAN SELENGKAPNYA SILAHKAN MENUJU KE SINI 





CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN EKONOMI


Contoh Skripsi Manajemen Ekonomi :
Analisis Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Nasabah Pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin di  Kota Palu

Abstraksi : 

Permasalahan dalam penelitian terdiri dari (1) apakah variabel kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, emphaty) secara serempak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin Palu? (2) variabel mana yang relatif lebih dominan berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin Palu?

Atas dasar permasalahan tersebut maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: (1) variabel kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, emphaty) secara serempak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin di Kota Palu; (2) variabel assurance relatif lebih dominan berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin di Kota Palu.

Untuk menganalisis permasalahan dan hipotesis tersebut maka digunakan analisis regresi linear berganda. Hasil pengujian hipotesis pertama, menyimpulkan bahwa tangible (X1), reliability (X2), responsiveness (X3), assurance (X4), emphaty (X5) berpengaruh serempak terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin di Kota Palu, yang dibuktikan dengan nilai Sig F 0.000 < α = 0.05. Sedangkan variabel yang berpengaruh relatif dominan secara signifikan terhadap loyalitas nasabah pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin di Kota Palu adalah variabel assurance (X4) dimana koefisien regresi variabel assurance sebesar 50,2% dan nilai Sig t sebesar 0.000 < α = 0.05, merupakan nilai tertinggi dari keempat variabel lainnya.

Contoh Skripsi Manaement Ekonomi selengkapnya Terkait Judul Analisis Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Nasabah Pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin di  Kota Palu, Dari mulai Bab 1 penelitian hingga hasil serta bab Penutup Silahkan, serta daftar pusttakan Silakhan Menuju Kesini

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...